LPPM | IAIN Pekalongan

P3M Adakan Seminar Proposal Pemberdayaan Masyarakat

E-mail Print PDF

pro berkat

Pekalongan - Program pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari implementasi tri dharma perguruan tinggi. Civitas kampus STAIN Pekalongan wajib berperan aktif di masyarakat. Karena itu, kita mendorong dan memfasilitasi semua dosen menjadi tokoh di masing-masing desa. Demikian, sambutan Waket I pada acara pembukaan seminar proposal program pemberdayaan masyarakat (pro-Berkat) tahun 2015, Kamis, 25 Maret 2015.

“Ada dosen yang sejak dari ‘sono’-nya berpotongan menjadi local leader, karena ia lahir dari keluarga ‘darah biru’. Namun, ada juga dosen ‘biasa’ yang perlu didorong menjadi tokoh, agar ikut berperan dalam perbaikan kualitas hidup masyarakat. Saya menyambut baik, program yang diinisiasi P3M. Ini upaya lembaga untuk mensuport para dosen menjadi penggerak masyarakat,” lanjut Muhlisin.

Seminar ini dilaksanakan di Gedung Pascasarjana, dan diikuti 32 komunitas. Mereka hadir dari berbagai daerah, Kota dan Kabupaten Pekalongan, Batang, Pemalang, Tegal, Brebes dan Demak. Hadir pada acara ini para panelis, Dr. H. Muhlisin, M.Ag (Waket I), Saiful Huda Shodiq (Konsultan Usaid) dan Sugiyarto, SE (Pattiro Pekalongan).

Dalam laporannya, Maghfur mengatakan bahwa forum seminar merupakan bagian dari usaha-usaha lembaga untuk meningkatkan mutu khidmah sosial kampus. “Seminar bukan sekedar mekanisme seleksi, namun yang terpenting adalah sebagai bagian dari proses belajar bersama,” tandas Kepala P3M. “Bersama tim reviewer, kita akan belajar manajemen program, riset partisipatif, pengorganisasian masyarakat, monitoring dan evaluasi partisipatif” lanjut Maghfur.

Peminat program pemberdayaan masyarakat tahun ini mengalami peningkatan signifikan. Jika tahun-tahun sebelumnya proposal dari masyarakat hanya 15 buah, kini mencapai 32. Ada kenaikan 100 persen lebih. Fokus dan isu program yang diajukan sangat varian, mulai dari persoalan ekonomi kerakyatan, manajemen pendidikan, pesantren, sekolah, kerajian, koperasi, dan lingkungan. “Terima kasih, saya sangat senang dan memberi apresiasi yang tinggi kepada dosen dan masyarakat yang ikut menyukseskan program ini”, ungkap Maghfur. Naiknya antusias masyarakat perlu direspon positif. Maghfur berharap kecenderungan baik ini perlu diimbangi kebijakan pimpinan. Kepala P3M akan mengawal agar ke depan, aspek pengabdian masyarakat mendapat perioritas. Selama ini, dharma pengabdian seolah-olah hanya pelengkap, di banding aspek pembelajaran dan riset. Mestinya, ketiganya berjalan seimbang dan terintegrasi.

Bagi Maghfur, gairah baru ini dinilai sebagai kabar gembira. Mengingat, cita-cita membangun laboratorium sosial semakin nyata. Isu program yang diajukan juga sangat variatif. “Tahun 2016, kita punya target 28 komunitas dampingan, 8 di antaranya menjadi laboratorium sosial, tempat belajar warga”, jelas Maghfur. Ia berharap, bagi masyarakat yang proposalnya, nanti dinyatakan mendapat bantuan dana atau fasilitas lain, agar bisa memanfaatkan bantuan secara optimal dan efektif. “Alangkah mulianya, bagi yang belum mendapat suport anggaran bisa tetap menjalankan rencana program dengan bantuan dari pihak lain”, pungkas Maghfur. (MA)