LPPM | IAIN Pekalongan

Peneliti STAIN Pekalongan Raih “Best Paper and Presentation Award”

E-mail Print PDF

Peneliti STAIN Pekalongan Raih

“Best Paper and Presentation Award”

Hasil riset dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Pekalongan, “Women behind Terrorism: a Study of Religiosity, Self-Adjustment and the Pattern of Relationship of Husbands and Wives of Terrorist Suspects” mendapat penghargaan sebagai “Best Paper and Presentation Award” pada ajang Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2012 di Empire Palace Hotel Surabaya, 5-8 Nopember. Penghargaan secara langsung diterima oleh ketua tim riset, Siti Mumun Muniroh, S. Psi., MA. “Best Paper and Presentation Award” diperoleh setelah yang bersangkutan mengikuti proses kompetisi seleksi abstrak, full paper dan presentasi yang dipandu intelektual muda, Masdar Hilmy, Ph.D.
Baru kali ini ajang AICIS memberi penghargaan bagi artikel terbaik. Dalam sambutan closing ceremony, Prof. Dr. Dede Rosada mengatakan “karena AICIS ini kelanjutan dari ACIS sebelumnya dan telah berjalan selama dua belas tahun, maka saat ini panitia akademik memilih 12 paper terbaik.”  Rosada melanjutkan “ada 12 paper terpilih sesuai bidang isu, bidang atau keilmuan masing-masing.”
Paper yang semula berjudul “Perempuan di Balik Teroris: Kajian Religiusitas, Penyesuaian Diri dan Pola Relasi Suami Isteri  Tersangka Teroris” masuk dalam kategori Theology dan Contemporary Issues. “Perempuan di Balik Teroris” disaring dari 527 menjadi 133 artiel dan dipilih 12 artikel terbaik.
Dede Rosada mengatakan “para reviewer atau convener AICIS tahun 2012 adalah para ahli dari berbagai varian studi Islam dan ilmu-ilmu yang berkembang di PTAI.” Tim akademik (steering committee) diketuai oleh Prof. Dr. Amin Abdullah, dengan anggota Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Akhmad Minhaji, Ph.D., Prof. Azhar Arsyad, Prof. Nur Kholis Setiawan, Ph.D., Prof. Dr. Amany Lubis, Prof. Dr. Abdul Harris, Prof. Dr. Syairozi, Prof. Dr. Mujibul Rahman, Dr. Jamhari, Dr. Ahmad Suaedy dan Masdar Hilmi, Ph. D., MA. Salah satu tugas tim akademik ini adalah memilih naskah terbaik.
Tema dan Pendekatan
Terpilihnya paper hasil kerja kolaboratif Siti Mumun Muniroh (bidang Psikologi), Maghfur Ahmad (Metodologi Studi Islam) dan Miftahul Ula (Bahasa Arab) tidak lepas dari kejelian peneliti. Mereka mampu merespon isu kontemporer dengan multiperspektif untuk dijadikan sebagai fokus kajian. Memadukan ilmu, sains dan  pengetahuan Islam sebagai pendekatan dalam memahami fenomena sosial keagamaan merupakan tema pokok AICIS kali ini. Melalui tema “Islamic Studies Revisited: From theoretical to practical knowledge,” kajian Islam PTAI, secara metodologis diharapkan memakai berbagai disiplin ilmu dan multi pendekatan serta berorentasikan pada penyesaian problem yang dihadapi umat.
Pada sesi the future of Islamic higher education atau executive summary convener, Prof. Dr. Abd A’la mengatakan, AICIS kali ini mengalami peningkatan, bukan hanya dari sisi kuantitas naskah yang mencapai 500 lebih, melainkan juga kualitas.  Bandingkan paper ACIS di Bangka Belitung yang hanya 300-an yang masuk ke panitia. “Indikator mutu dapat dilihat dari kejelian memilih tema. Ada presenter yang mengkaji ‘terorisme.’ Terorisme merupakan problem klasik, namun penulis masuk pada sisi lain, yaitu isteri-isteri tersangka teroris. Hampir-hampir, peminat dan pengkaji terorisme lain tak melihatnya sebagai ‘masalah’. Ini tema recycle, tapi pengulangan yang produktif dan cerdas” tandas A’la yang juga rektor IAIN Sunan Ampel.
“Dilihat dari pendekatan sangat menarik” lanjut A’la. A’la menilai “penulis mensinergikan pendekatan secara integratif antara ilmu keagamaan, psikologi dan sosial sekaligus,”  “Model kajian seperti ini perlu dikembangkan lebih lanjut, agar peran PTAI semakin nyata dalam menyelesaikan problem umat, bangsa dan negara,” pungkas intelektual populis ini.
Pada plenary session sebelumnya, pakar Islamic Studies Universitas Ibnu Tufayl Marocco, Mariam Ait Ahmed Ouli menyatakan PTAI merupakan barometer pendidikan Islam dunia. Sebab itu, tandas Mariam, PTAI tidak cukup hanya meningkatkan kuantitas, melainkan perlu diimbangi kualitas dan mutu. Mariam berujar bahwa studi Islam sangat penting supaya tidak terjadi stagnasi pemikiran. Dalam pengamatan Mariam, selama ini studi Islam cenderung berorientasi pada aspek ketuhanan. Akibatnya, disiplin sosial kerapkali dilupakan bahkan hampir tidak disentuh dalam studi Islam (Duta Masyarakat 8/10/2012).
Mariam optimis bahwa negara Indonesia akan menjadi sentra perkembangan kajian Islam dunia. Menurutnya, status ini akan tercapai apabila PTAI terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan, kualitas serta metode pembelajaran. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, dalam sesi dialog Communication Across Culture, Mariam mensyaratkan alumni PTAI harus dibekali berbagai bidang ilmu. Mereka tidak cukup ahli dalam bidang Islam, melainkan juga harus pandai dalam pengasaan sains dan sosial. “Sinergitas pengetahuan Islam dan ilmu sosial atau sains menjadi niscaya” tandas intelektual asal Maroko. Persis apa yang disampaikan Dahlan Iskan pada final plenary session, “di tengah kompetisi yang sangat ketat, biar alumni PTAI dapat bersaing, mereka harus menguasai ilmu teknik, sosial dan keterampilan ‘duniawi’lainnya. Ilmu agama saja tidak cukup. Gini-gini saya juga jebolan PTAI, IAIN Sunan Ampel Samarinda” kata menteri BUMN yang sedang konflik dengan DPR.
AICIS ke-12 yang dihadiri para pakar kajian Islam dari Rusia, Jerman, Mesir, Maroko, Arab Saudi, Australia, Amerika, Inggris dan Malaysia melahirkan beberapa rekomendasi. Selaku tim akademik, Prof. Amin Abdullah merekomendasikan “perlu dikembangkan fresh-ijtihad, integrasi sains dan agama, serta pentingnya multidisiplin dalam kajian Islam.” Melihat perkembangan PTAI terkini, baik dari fisik, maupun atmosfir akdemiknya, Azyumardi Azra berkesimpulkan bahwa santrinisasi tak lagi dapat dibendung di Indonesia. “saya kira tidak ada yang meragukan peran PTAI dalam masyarakat” kata Direktur Sekolah Pasca UIN Jakarta. “Kiai pesantren 80-90 persen tamatan PTAI” tandas Azra. “Kampus kita berani bersaing dengan universitas vaforit seprti UI dan  UNY. Pengamat politik dari FISIP UIN lebih terkenal dari pada FISIP UI. Kita bangga sebagai orang UIN, IAIN dan STAIN” pungkas Azra.
Selain “Women behind Terrorism,”pada acara AICIS juga memilih 11 paper lain. Paper tersebut di antaranya Behind the Burqa: A Studi on idelogy and social role of Salafi Women in South Kalimantan (Tarawiyah, LKAM Banjarmasin); From Kyai to Bupati: Transformational Studies from traditional leader to secular leadership (Nurul Izzah, IAI Ibrahimy, Situbondo); Dikotomi paradigma psikologi Islami: Studi Kasus Sejarah Integrasi ilmu dan Islam di Indonesia (Subhani Kusuma Dewi, UIN Suka Yogyakarta); Potential adoption and use of Online Social Media (OSM) among muslim scholars in delivering da’wah (Noordin, Swanburne University of Technology, Australia); Potensi Konflik pada Tradisi Mararik di Pulau Lombok (Ahmad Fathan Aniq, IAIN Sunan Ampel, Surabaya), dan lain sebagainya. Selamat! Sampai jumpa di AICIS 2013 di IAIN Mataram (MA).